Senin, 30 Maret 2020

Faktor Prilaku Dalam Olahraga


Pencegahan Perawatan Cidera
FAKTOR PRILAKU DALAM OLAHRAGA

Faktor Prilaku Akibat Latihan Progresif
Feforma atlet di lapangan sangat di pengaruhi oleh prilakunya sendiri, ada prilaku yang menguntungkan dan ada juga pilaku yang merugikan misalnya :
1.      Prilaku yang menguntungkan
Rasa ketekunan atlet untuk berlatih sehingga ia akan memperoleh keterampilan yang lebih baik, kematangan , semangat dalam pertandingan dan latihan, teliti serta cermat, berani, berhati-hati, mudah menerima, bijaksana/serius, tenang, percaya diri, terkontrol, cakap/pintar, teguh pendirian. Itu semua merupakan sikap yang dapat membawa dampak positif terhadap feforma atlet di lapangan.
2.      Prilaku yang merugikan
Sikap mudah tersinggung atau cepat emosi sehingga membuat atlet tidak terkontrol dalam melakukan apapun, rasa cepat bosan terutama dalan latihan, kurang cakap, sembrono/ceroboh, ragu-ragu, pemalu, lambat menerima, curiga/cemburu, bersifat kewanitaan, tidak terkendali, menyendiri, tidak tetap pendirian, serta penakut merupakan sikap yang  membuat prestasi atlet menurun.
Jadi setiap atlet harus mampu menghilangkan prilaku yang akan merugikan diri nya sendiri dan harus mampu menumbuhkan sikap ataunprilaku yang dapat menguntungkan dirinya dalam mencapai prestasi yang maksimal.

Latihan Progresif
Latihan progresif  merupakan latihan-latihan yang menguntungkan pada saat dadakan. Perlu ditekankan prinsip-prinsip pemberian beban lebih yang bertahap dan prinsip spesifisitas dari latihan. Pemilihan metode yang tepat adalah meliputi efisiensi gerakan yang sesuai, efeKtifitas program latihan, termasuk FITT (frekwensi, Intensitas, Time, Tipe) yang adekuat. Gerakan yang salah harus dikoreksi dan dengan dasar gerakan yang baik.
Latihan yang baik adalah dengan adanya beban latihan, yang diperlukan selama proses berlatih melatih agar hasil latihan dapat berpengaruh terhadap peningkatan kualitas fisik, psikis, sikap dan sosial olahragawan, sehingga puncak prestasi dapat dicapai dalam waktu yang singkat dan dapat bertahan relatif lebih lama.
Frekuensi latihan yaitu 3 sampai 5 hari setiap seminggu dengan intensitas 60% sampai 75% dari denyut jantung maksimal yang sebenarnya atau yang di perkirakan menurut umur kemudian tingkatkan hingga 70%-85%, tipe aktivitas  yang di lakukan seperti aerobik di mulai dari 5 sampai 15 menit  kemudian tingkat sampai 40-60 menit.
Prinsip-prinsip latihan yang dimaksud adalah sebagai berikut:
1. Prinsip pemanasan tubuh (warming-up principle)
Pemanasan tubuh penting dilakukan sebelum berlatih. Tujuan pemanasan ialah untuk mempersiapkan fungsi organ tubuh guna menghadapi kegiatan yang lebih berat dalam hal ini adalah penyesuaian terhadap latihan inti.
2. Prinsip beban lebih (overload principle)
Sistem faaliah dalam tubuh pada umumnya mampu untuk menyesuaikan diri dengan beban kerja dan tantangan-tantangan yang lebih berat. Selama beban kerja yang diterima masih berada dalam batas-batas kemampuan manusia untuk mengatasinya dan tidak terlalu berat sehingga menimbulkan kelelahan yang berlebihan, selama itu pulalah proses perkembangan fisik maupun mental manusia masih mungkin, tanpa merugikannya. Jadi beban latihan yang diberikan kepada atlet haruslah cukup berat dan cukup bengis namun realistis yaitu sesuai dengan kemampuan atlet, serta harus dilakukan berulang kali dengan intensitas yang tinggi. Harsono (2004:9) menyatakan, “Beban latihan yang diberikan kepada atlet haruslah secara periodik dan progresif ditingkatkan.”
3. Prinsip sistematis (systematic principle)
Latihan yang benar adalah latihan yang dimulai dari kegiatan yang mudah sampai kegiatan yang sulit, atau dari beban yang ringan sampai beban yang berat. Hal ini berkaitan dengan kesiapan fungsi faaliah tubuh yang membutuhkan penyesuaian terhadap beratnya beban yang diberikan dalam latihan. Dengan berlatih secara sistematis dan dilakukan berulang-ulang yang konstan, maka organisasi-organisasi sistem persyarafan dan fisiologis akan menjadi bertambah baik, gerakan yang semula sukar akan menjadi gerakan yang otomatis dan reflektif.
4.Prinsip intensitas (intensity principle)
Perubahan-perubahan fungsi fisiologis yang positif hanyalah mungkin apabila atlet dilatih melalui suatu program latihan yang intensif yang dilandaskan pada prinsip overload dimana secara progresif menambah beban kerja, jumlah pengulangan serta kadar intensitas dari pengulangan tersebut. Harsono (2004:11) menyatakan, “Intensitas yang kurang dari 60%-70% dari kemampuan maksimal atlet tidak akan terasa training effect-nya (dampak/manfaat latihannya).
5.Prinsip pulih asal (recovery principle)
Harsono (2004:11) menyatakan, “Perkembangan atlet bergantung pada pemberian istirahat yang cukup seusai latihan agar regenerasi tubuh dan dampak latihan bisa dimaksimalkan.” Dalam hal ini atlet perlu mengembalikan kondisinya dari kelelahan akibat latihan melalui istirahat
6.Prinsip variasi latihan
Latihan dalam jangka waktu yang lama sering menimbulkan kejenuhan bagi atlet, apalagi program latihan yang dilaksanakan bersifat jangka panjang. Oleh karena itu, latihan harus dilaksanakan melalui berbagai macam variasi sehingga beban latihan akan terasa ringan dan menggembirakan. Apalagi variasi latihan yang diterapkan sesuai dengan kebutuhan. Harsono (2004:11) menyatakan, “Untuk mencegah kebosanan berlatih, pelatih harus kreatif dan pandai menerapkan variasi-variasi dalam latihan.”
7.Prinsip perkembangan multilateral
Harsono (2004:11) menyatakan, “Prinsip ini menganjurkan agar anak usia dini jangan terlalu cepat dispesialisasikan pada satu cabang olahraga tertentu.” Dalam hal ini sebaiknya anak diberikan kebebasan untuk terlibat dalam berbagai aktivitas olahraga agar ia bisa mengembangkan dirinya secara multilateral baik dalam aspek fisik, mental maupun sosialnya.
8. Prinsip individualisasi
Harsono (2004:9) menyatakan, “Agar latihan bisa menghasilkan yang terbaik, prinsip individualisasi harus senantiasa diterapkan dalam latihan.” Artinya beban latihan harus disesuaikan dengan kemampuan adaptasi, potensi, serta karakteristik spesifik dari atlet.
9.Prinsip spesifik (specificity principle)
Prinsip ini mengisyaratkan bahwa latihan itu harus spesifik, yaitu benar-benar melatih apa yang harus dilatih. Harsono (2004:10) menyatakan, “Manfaat maksimal yang bisa diperoleh dari rangsangan latihan hanya akan terjadi manakala rangsangan tersebut mirip atau merupakan replikasi dari gerakan-gerakan yang dilakukan dalam olahraga tersebut.

Norma-Norma Pembebanan
Norma-norma pembebanan latihan meliputi volume, intensitas, interval dan densitas. Adapun pembahasan mengenai norma-norma pembebanan adalah sebagai berikut:
a. Volume
Dalam suatu latihan biasanya berisi drill-drill atau bentuk-bentuk latihan. Isi latihan atau banyaknya tugas yang harus diselesaikan ini disebut volume latihan. Tentang hal ini oleh Chu (1989:13) dijelaskan, “Volume is the total work performed is single work at session or cycle”. Sedangkan mengenai pentingnya volume latihan oleh Bompa (1993:57) dikatakan, “As an athlete approaches the stage of high performance, the overall volume training becomes more important”. Hal ini mengisyaratkan bahwa setiap latihan harus memperhatikan volume latihan selain dari intensitas latihannya.
  
b. Intensitas
Intensitas latihan oleh Moeloek (1984:12) dijelaskan, “Intensitas latihan menyatakan beratnya latihan”. Kemudian Chu (1989:13) menyatakan, “Intensity is effort involved in performing a given task”. Jadi intensitas latihan adalah besarnya beban latihan yang harus diselesaikan dalam waktu tertentu. Untuk mengetahui suatu intensitas latihan atau pekerjaan adalah dengan mengukur denyut jantungnya. Cara mengukur intensitas ini oleh Harsono (1988:115) dijelaskan, “Intensitas latihan dapat diukur dengan berbagai cara, diantaranya mengukur denyut jantung (heart rate)”. Selanjutnya Katch dan McArdle yang dikutip oleh Harsono (1988:116) menjelaskan:
1) Intensitas latihan dapat diukur dengan cara menghitung denyut jantung/nadi dengan rumus: denyut nadi maksimum (DNM) = 220 – umur (dalam tahun). Jadi seseorang yang berumur 20 tahun, DNM-nya = 220 – 20 = 200.
2) Takaran intensitas latihan
a. Untuk olahraga prestasi: antara 80%-90% dari DNM. Jadi bagi atlet yang berumur 20 tahun tersebut takaran intensitas yang harus dicapainya dalam latihan adalah 80%-90% dari 200 = 160 sampai dengan 180 denyut nadi/menit.
b.Untuk olahraga kesehatan: antara 70%-85% daari DNM. Jadi untuk orang yang berumur 40 tahun yang berolahraga menjaga kesehatan dan kondisi fisik, takaran intensitas latihannya sebaiknya adalah 70%-85% kali (220 – 40), sama dengan 126 s/d 153 denyut nadi/menit.
Angka-angka 160 s/d 180 denyut nadi/menit dan 126 s/d 153 denyut nadi/menit menunjukan bahwa atlet yang berumur 20 tahun dan orang yang berumur 40 tahun tersebut berlatih dalam training sensitive zone, atau secara singkat biasanya disebut training zone.
3) Lamanya berlatih di dalam training zone:
a.Untuk olahraga prestasi: 45 – 120 menit
b.Untuk olahraga kesehatan: 20 – 30 menit
c. Interval
Masa pulih atau recovery dari setiap penyelesaian suatu tugas adalah hal yang perlu diperhatikan karena menyangkut kesiapan tubuh umumnya dan otot-otot khususnya untuk menerima beban tugas berikutnya. Mengenai masa pulih ini, Brittenham yang diterjemahkan oleh Soepadmo (1996:12) menjelaskan sebagai berikut:

Adaptasi fisik terjadi pada saat istirahat, karena pada waktu itu tubuh membangun persiapan untuk gerakan berikutnya. Maka istirahat yang cukup akan memberikan hasil yang maksimal.
Jika anda terlalu giat berlatih dan tidak memberikan kesempatan tubuh beristirahat diantara tiap sesi latihan, maka anda akan mengalami kelelahan atau bahkan kemunduran.

d. Densitas
Densitas merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan kekerapan latihan dan merupakan frekuensi latihan yang dilakukan, diselingi waktu istirahat atau bisa disebut pula dengan kepadatan latihan, seperti 3 set  @ 25RM Squat = 75 kali, jadi kepadatannya adalah 75 kali Squat.
Berdasarkan pendapat para ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa prinsip latihan pada dasarnya mencakup prinsip spesifikasi, system energi, prinsip overload, dan prinsip pemanasan dan pendinginan. Prinsip spesifikasi berarti memiliki kekhususan sistem energi meliputi penggunaan energi, dan prinsip overload yang bekaitan dengan intensitas, frekuensi, dan durasi. Perlu diperhatikan pembuatan suatu program latihan haruslah berdasar pada prinsip-prinsip latihan agar program latihan berjalan sesuai dengan tujuan atau sasaran latihan tanpa mengalami overtraining.

Faktor Perilaku Olahraga
Robert Y. Kwick (1972) menyatakan bahwa perilaku adalah tindakan atau perbuatan suatu organisme yang dapat diamati dan bahkan dipelajari. Menurut Ensiklopedi Amerika, perilaku diartikan sebagai suatu aksi dan reaksi organisme terhadap lingkungannya, hal ini berarti bahwa perilaku baru akan terwujud bila ada sesuatu yang diperlukan untuk menimbulkan tanggapan yang disebut rangsangan, dengan demikian maka suatu rangsangan tertentu akan menghasilkan perilaku tertentu pula. Menurut Green , faktor perilaku dibentuk oleh tiga faktor utama yaitu :
1. Faktor predisposisi (predisposing factors), yaitu faktor yang mempermudah atau mempredisposisi terjadinya perilaku seseorang antara lain pengetahuan, sikap, keyakinan, kepercayaan, nilai-nilai dan tradisi.
2. Faktor pemungkin (enabling factors), yaitu faktor yang memungkinkan atau yang memfasilitasi perilaku atau tindakan antara lain umur, status sosial ekonomi, pendidikan, prasarana dan sarana serta sumber daya.
3. Faktor pendorong atau penguat (reinforcing factors), faktor yang mendorong atau memperkuat terjadinya perilaku misalnya dengan adanya contoh dari para tokoh masyarakat yang menjadi panutan.
Faktor yang mempengaruhi perilaku:
1. Faktor Internal
Tingkah laku manusia adalah corak kegiatan yang sangat dipengaruhi oleh faktor yang ada dalam dirinya. Faktor-faktor intern yang dimaksud antara lain jenis ras/keturunan, jenis kelamin, sifat fisik, kepribadian, bakat, dan intelegensia. Faktor-faktor tersebut akan dijelaskan secara lebih rinci seperti di bawah ini.
a. Jenis Ras/ Keturunan
Setiap ras yang ada di dunia memperlihatkan tingkah laku yang khas. Tingkah laku khas ini berbeda pada setiap ras, karena memiliki ciri-ciri tersendiri. Ciri perilaku ras Negroid antara lain bertemperamen keras, tahan menderita, menonjol dalam kegiatan olah raga. Ras Mongolid mempunyai ciri ramah, senang bergotong royong, agak tertutup/pemalu dan sering mengadakan upacara ritual. Demikian pula beberapa ras lain memiliki ciri perilaku yang berbeda pula.
b. Jenis Kelamin
Perbedaan perilaku berdasarkan jenis kelamin antara lain cara berpakaian, melakukan pekerjaan sehari-hari, dan pembagian tugas pekerjaan. Perbedaan ini bisa dimungkikan karena faktor hormonal, struktur fisik maupun norma pembagian tugas. Wanita seringkali berperilaku berdasarkan perasaan, sedangkan orang laki-laki cenderug berperilaku atau bertindak atas pertimbangan rasional.
c. Sifat Fisik
Kretschmer Sheldon membuat tipologi perilaku seseorang berdasarkan tipe fisiknya. Misalnya, orang yang pendek, bulat, gendut, wajah berlemak adalah tipe piknis. Orang dengan ciri demikian dikatakan senang bergaul, humoris, ramah dan banyak teman
d. Kepribadian
Kepribadian adalah segala corak kebiasaan manusia yang terhimpun dalam dirinya yang digunakan untuk bereaksi serta menyesuaikan diri terhadap segala rangsang baik yang datang dari dalam dirinya maupun dari lingkungannya, sehingga corak dan kebiasaan itu merupakan suatu kesatuan fungsional yang khas untuk manusia itu. Dari pengertian tersebut, kepribadian seseorang jelas sangat berpengaruh terhadap perilaku sehari-harinya.
e. Intelegensia
adalah keseluruhan kemampuan individu untuk berpikir dan bertindak secara terarah dan efektif. Bertitik tolak dari pengertian tersebut, tingkah laku individu sangat dipengaruhi oleh intelegensia. Tingkah laku yang dipengaruhi oleh intelegensia adalah tingkah laku intelegen di mana seseorang dapat bertindak secara cepat, tepat, dan mudah terutama dalam mengambil keputusan
f. Bakat
Bakat adalah suatu kondisi pada seseorang yang memungkinkannya dengan suatu latihan khusus mencapai suatu kecakapan, pengetahuan dan keterampilan khusus, misalnya berupa kemampuan memainkan musik, melukis, olah raga, dan sebagainya
2. Faktor Eksternal
a. Pendidikan
Inti dari kegiatan pendidikan adalah proses belajar mengajar. Hasil dari proses belajar mengajar adalah seperangkat perubahan perilaku. Dengan demikian pendidikan sangat besar pengaruhnya terhadap perilaku seseorang. Seseorang yang berpendidikan tinggi akan berbeda perilakunya dengan orang yang berpendidikan rendah.
b. Agama
Agama akan menjadikan individu bertingkah laku sesuai dengan norma dan nilai yang diajarkan oleh agama yang diyakininya.

c. Kebudayaan
diartikan sebagai kesenian, adat istiadat atau peradaban manusia. Tingkah laku seseorang dalam kebudayaan tertentu akan berbeda dengan orang yang hidup pada kebudayaan lainnya, misalnya tingkah laku orang Jawa dengan tingkah laku orang Papua.
d. Lingkungan
adalah segala sesuatu yang ada di sekitar individu, baik lingkungan fisik, biologis, maupun sosial. Lingkungan berpengaruh untuk mengubah sifat dan perilaku individu karena lingkungan itu dapat merupakan lawan atau tantangan bagi individu untuk mengatasinya. Individu terus berusaha menaklukkan lingkungan sehingga menjadi jinak dan dapat dikuasainya.
e. Sosial Ekonomi
Status sosial ekonomi seseorang akan menentukan tersedianya suatu fasilitas yang diperlukan untuk kegiatan tertentu, sehingga status sosial ekonomi ini akan mempengaruhi perilaku seseorang.
Faktor perilaku yang banyak terkait dengan kejadian hypertensi dapat disebutkan antara lain stres pekerjaan, kebiasaan merokok, dan kebiasaan berolah raga.
Hampir semua orang di dalam kehidupan mereka mengalami stress berhubungan dengan pekerjaan mereka. Hal ini dapat dipengaruhi karena tuntutan kerja yang terlalu banyak (bekerja terlalu keras dan sering kerja lembur) dan jenis pekerjaan yang harus memberikan penilaian atas penampilan kerja bawahannya atau pekerjaan yang menuntut tanggung jawab bagi manusia. Stres pada pekerjaan cenderung menyebabkan hipertensi berat. Sumber stres dalam pekerjaan (Stressor) meliputi beban kerja, fasilitas kerja yang tidak memadai, peran dalam pekerjaan yang tidak jelas, tanggung jawab yang tidak jelas, masalah dalam hubungan dengan orang lain, tuntutan kerja dan tuntutan keluarga.
Beban kerja meliputi pembatasan jam kerja dan meminimalkan kerja shift malam. Jam kerja yang diharuskan adalah 6-8 jam setiap harinya. Sisanya (16-18 jam setiap harinya) digunakan untuk keluarga dan masyarakat, istirahat, tidur, dan lain-lain. Dalam satu minggu seseorang bekerja dengan baik selama 40-50 jam, lebih dari itu terlihat kecenderungan yang negatif seperti kelelahan kerja, penyakit dan kecelakaan kerja (Suma’mur, 1998).
Stres dapat meningkatkan tekanan darah dalam waktu yang pendek, tetapi kemungkinan bukan penyebab meningkatnya tekanan darah dalam waktu yang panjang. Dalam suatu penelitian, stres yang muncul akibat mengerjakan perhitungan aritmatika dalam suatu lingkungan yang bising, atau bahkan ketika sedang menyortir benda berdasarkan perbedaan ukuran, menyebabkan lonjakan peningkatan tekanan darah secara tiba-tiba (Beevers, 2002). Hubungan antara stres dengan hipertensi diduga melalaui saraf simpatis yang dapat meningkatkan tekanan darah secara intermiten. Apabila stres berlangsung lama dapat mengakibatkan peninggian tekanan darah yang menetap. Pada binatang percobaan dibuktikan bahwa pajanan terhadap stres menyebabkan binatang tersebut menjadi hipertensi (Isselbacher, et al., 2000).
Kebiasaan merokok, minum minuman beralkohol dan kurang olahraga serta bersantai dapat mempengaruhi peningkatan tekanan darah. Rokok mempunyai beberapa pengaruh langsung yang membahayakan jantung. Apabila pembuluh darah yang ada pada jantung dalam keadaan tegang karena tekanan darah tinggi, maka rokok dapat memperburuk keadaan tersebut (Smith, 1986). Merokok dapat merusak pembuluh darah, menyebabkan arteri menyempit, dan lapisan menjadi tebal dan kasar. Akibatnya keadaan paru-paru dan jantung mereka yang merokok tidak dapat bekerja secara efisien.
Olahraga lebih banyak dihubungkan dengan pengelolaan hipertensi karena olahraga isotonik dan teratur dapat menurunkan tahanan perifer yang akan menurunkan tekanan darah (Arjatmo, 2001). Meskipun tekanan darah meningkat secara tajam ketika sedang berolahraga, namun jika berolahraga secara teratur akan lebih sehat dan memiliki tekanan darah lebih rendah dari pada mereka yang tidak melakukan olahraga. Olahraga yang teratur dalam jumlah sedang lebih baik dari pada olahraga berat tetapi hanya sekali. Olahraga juga dikaitkan dengan peran obesitas pada hipertensi. Kurang olahraga akan meningkatkan kemungkinan timbulnya obesitas dan jika asupan garam juga bertambah akan memudahkan timbulnya hipertensi. Seseorang yang rajin berolahraga memiliki risiko lebih rendah untuk menderita penyakit jantung, tekanan darah tinggi dan kolesterol tinggi. Oleh karena itu, latihan fisik selama 30-45 menit sebanyak lebih dari tiga kali per minggu penting sebagai pencegahan primer dari hipertensi (Cortas, 2008).
           
Faktor-Faktor Latihan Progresif
Perlu di tekankan prinsip-prinsip pemberian beban lebih yang bertahap dan prinsip spesifisitas dari latihan:
Latihan progresif untuk lari-lintas-alam, perlombaan atletik tes Pola NAPFA diperkenalkan di singapura tahun 1981 dengan tujuan sebagai berikut:
a.       Untuk mengusahakan tercapainya suatu tingkat kebugaran jasmani menyeluruh yang diinginkan bagi rakyat singapura.
b.      Untuk memberikan suatu cara sederhana tetapi dapat di percaya untuk mengevaluasi kebugaran jasmani menyeluruh bagi pria dan wanita berumur 12 tahun atau lebih.
c.       Untuk memberikan lencana emas,perak dan perunggu, sertifikat dan hadiah lain bagi mereka yang memenuhi standar yang diperlukan, sebagai pengharagaan akan prestasi mereka.
d.      Untuk melengkapi, menambah untuk mengganti sebagian atau seluruhnya deretan organisasi-organisasi ujian kebugaran jasmani, seperti sekolah angkatan bersenjata, polisi dan badan-badan olahraga.
e.       Untuk mendapatkan informasi yang lebih dapat dipercaya tentang kebugaran jasmani dari orang singapura. Hal ini diperoleh dengan cara mempelajari dan membandingkan hasi-hasil ujian yang dilakukan pada berbagai golongan orang di singapura dan juga membandingkan hasil-hasil ini dengan golongan-golongan yang serupa di negara lain.
Memerlukan waktu minimal 4 sampai 6 minggu (sebaiknya paling tidak 8 sampai 12 minggu).
         Petunjuk resep FITT dapat diterapkan untuk latihan-latihan progresif ini:
F = Frekuensi                    : 3 sampai 5 hari setiap minggu
I = Intensitas         : Mulailah dengan 60% sampai 75% dari denyut jantung maksimal yang sebenarnya atau yang di perkirakan menurut umur. Tingkatkan sampai 70%-85%
T = Tipe aktivitas  :aerobik (misalnya jogging), kalistenik (misalnya peregangan, menyentuh jari kaki) dan latihan yang spesifik terhadap perlombaan (misalnya nomor-nomor tes NAPFA)
T = Time (waktu)  : setiap kali mulailah dengan berlatih 5 sampai 15 menit; tingkatkan sampai 30-60 menit. 
      Salah satu cara untuk mengukur denyut jantung per menit ialah dengan menghitung denyut jantung atau nadi selama 6 detik dan kalikan hasilnya 10 kali:
      Denyut Per Menit = Denyut dalam 6 detik x 10
      Kecepatan peningkatan latihan bergantung pada tingkat kebugaran awal dari orang yang bersangkutan dan pada responnya terhadap program latihan tersebut.
a.        Latihan kekuatan
Komponen kondisi fisik seseorang tentang kemampuannya dalam mempergunakan otot untuk menerima beban sewaktu bekerja. Jadi, otot lebih kuat jika dilatih, beban waktu latihan yang cukup sesuai tahap. Un tuk latihan sifatnya individual, otot yang di latih benar-benar tidak cedera.
b.      Latihan Keterampilan
Pencegahan lewat keterampilan mempunyai andil yang besar dalam pencegahan cedera itu telah terbukti, karena penyiapan atlit dan resikonya harus di pikirkan lebih awal. Untuk itu para atlit sangat perlu ditumbuhkan kemampuan untuk bersikap wajar atau relaks. Dalam menyangkutkan atlit tidak cukup keterampilan tentang kemampuan fisik saja namun termaksud daya pikir, membaca situasi, mengetahui bahaya yang bisa terjadi dan mengurangi resiko cedera.
c.       Latihan Fitness
Pencegahan lewat latihan fitness secara terus menerus mampu mencegah cedera pada atlit baik cedera otot, sendi dan tendor. Serta mampu bertahan untuk pertandingan lebih lama tanpa kelelahan.


Minggu, 08 Maret 2020

Fasilitas olahraga beserta Cabor Olahraga dan Sarana Pelindung Olahraga

Fasilitas olahraga beserta Cabor Olahraga dan Sarana Pelindung Olahraga

Faktor Fasilitas yang dapat menyebabkan cedera dan cabang olahraga. 

 Cabang-cabang olahraga dan hal yang menyebabkan cedera terhadap olahraga tersebut atau fasilitasnya.


1. GOR
    Olahraga yang dapat dilaksanakan atau di mainkan antara lain adalah:

- Bela diri,Tinju, Basket, Bulu tangkis, Tenis meja, Angkat besi, Anggar, Senam, Bola voly.

    

Penyebab terjadinya cedera yang dapat di alami adalah:

  Lapangan yang licin dan tidak terawat, Matras yang tidak layak pakai , bocornya atap gor yang menimbulkan air saat hujan dan menetes ke lapangan.


2. STADION
    Olahraga yang dapat dilaksanakan atau dimainkan antara lain adalah :

 - Sepak bola, Atletik, Softball, Bola tangan.


Penyebab terjadi nya cedera yang di alami adalah :

 - Lapangan yang becek, Lapangan yang tidak terawat, Lapangan yang berlobang


3. KOLAM RENANG
     Olahraga yang dapat dilaksanakan atau dimainkan antara lain adalah :

- Renang, Polo air, Lompat indah


Penyebab terjadinya cedera yang di alami adalah :

  Kolam yang tidak bersih atau kotor, Tidak terawat, Kurangnya air, berlumut.


4. DANAU
     Olahraga yang dilaksanakan atau dimainkan antara lain adalah :

  - Dayung, Selam, Sky air.


Penyebab terjadinya cedera yang dialami adalah :

 Aktifitas masyarakat (pasang jaring,kerambak ikan dan lain-lain)


5. LAUT
    Olahraga yang dapat dilaksanakan atau dimainkan antara lain adalah :

 - Selanjar, Selam, Sky air


Penyebab terjadinya cedera yang dialami adalah :

  Naik surutnya air


6. SIRKUIT
   Olahraga yang dilaksanakan atau dimainkan antara lain  :

 - Motor balap, Balap sepeda, Motor cross


Penyebab terjadinya cedera yang dialami adalah :

 Jalan yang licin,berlobang,becek,berbatu dan lain-lain


7. UDARA
     Olaharaga yang dilaksanakan atau dimainkan antara lain :

  - Terjun payung

 

 Penyebab terjadinya cedera yang dialami adalah :

  Tekanan angin yang tidak stabil atau berubah-ubah


8. TEBING
    Olahraga yang dilaksanakan atau dimainkan antara lain adalah :

- Panjat tebing


9. Gynmasiun
            Gymnasium merupakan tempat berlangsungnya kegiatan senam, fitness dan olahraga pengembang organ tubuh lainnya. Factor penyebab cidera karena fasilitas gymnasium berupa alat fittnes yang kurang memadai, bangunan yang tidak kokoh, tidak adanya tulisan pemberitahuan tentang tata cara factor keamanan pendukung lainnya.


10.   Hall
            Hall adalah bangunan/infrastruktur yang di fakoskan untuk beberapa cabang olahraga seperti olahraga bela diri, catur, serta cabang olahraga indoor lainnya. Factor penyebab cedera olehnya berupa atap/ tiang bangunan yang tidak kokok yang di khawatirkan rentan cedera terhadap semua pihak, ruangan yang sempit, tribun penonton yang tidak layak.


11.   Arena
            Pusat kegiatan olahraga yang berlangsung di arena berupa cabang olahraga pacuan kuda dan lainnya. Penyebab cedera karenanya berupa lintasan pacuan kuda yang tidak baik, pagar penonton yang tidak baik, benda asing yang mengganggu lancarnya kegiatan.


 12.     Ring.
            Ring adalah arena tempat pertandinganbela diri seperti cabang olahraga tinju,muaythai didirikan di atas panggung (setinggi ± 1,5 m). Pada tinju era modern ini, ring berbentuk segi empat sama sisi, dan dibatasi oleh tali berjumlah empat pada setiap sisi. Di dalam ring ada empat sudut. Sudut berwarna merah dan biru untuk kubu para petinju, sedang sudut berwarna putih (atau sudut netral) untuk wasit atau dokter ring yang bertugas atau beristirahat pada masa jeda. Factor cedera oleh karenanya berupa tali ring yang tidak kuat, besi penyangga tali ring yang anjlok, raing yang tidak kokoh serta bangunan/ tribun penonyon yang tidak baik.


13.  Wall Climbing
            Fasilitas ini ialah tempat berlangsunngnya olahraga panjat tebing, factor cedera karena nya berupa wall/dinding yang rapuh, grip yang tidak kokoh, konstruksi bangunan yang tidak kokoh, dan factor lainnya yang mengaganggu kelancaran aktivitas wall climbing.


 14.  Ski es
            Ski es ialah fasilitas untuk olahraga untuk hoki, factor cedera  karena fasilitas ini yang rentan terjadi adalah mencairnya es, pagar pengaman yang kurang kuat serta benda asing lainya.


 15.   Gunung salju
            Merupakan lintasan gunung yang bersalju yang dibiasanya di gelar kejuaraan balapan, sky, dan lainnya. 


Penyebab cidera karenanya dapat berupa lintasan yang tidak teratur, pohon tumbang, binatang buas, dan lainnya.



 16. Sungai.
            Fasilitas sungai kerap di jadikan sebagai ajang kejuaraan arum jeuram. Factor penyebab cidera di sinipun sangat bervariasi di antaranya ialah karena sampah, pohon kayu yang tumbang, bintanang buas, batu besar yang tajam dan lainnya.


17. Track & fill
            Track & fill sangat identik dengan cabang olahraga atletik, yakni lari, lompat, lempar. Penyebab cidera pada fasilitas ini berupa adanya gangguan terhadap lintasan yang kurang terawat atau rusak, bak lompat yang tidak rata bagi olahraga lompat jauh, lapangan yang becek.


D. Sarana Pelindung

           Dalam (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2002:999) Sarana olahraga adalah sesuatu (bisa berupa syarat atau upaya) yang dapat di pakai sebagai alat atau media dalam mencapai maksud dan tujuan. Sarana pelindung adalah alat-alat yang digunakan saat berolahraga.Sarana pelindung yang standart punya peranan penting dalam mencegah cedera. Kerusakan alat sering menjadi penyebab cedera pula, contoh yang sederhana seperti sepatu. Sepatu adalah salah satu bagian peralatan/pelindung kaki dalam berolahraga yang mendapat banyak perhatian para ahli. Masing-masing cabang olahraga umumnya mempunyai model sepatu dengan cirinya sendiri, Yang paling banyak dibicarakan adalah sepatu olahraga lari.


         Hal ini di hubungkan dengan dominanya olahraga lari, baik yang berdiri sendiri maupun sebagai bagian dari orang lain.Sarana pelindung adalah peralatan yang memadai dan sesuai dengan kebutuhan cabang olahraga, yang akan menghindari terjadinya cedera, sarana pelindung yang harus diperhatikan untuk melindungi bagian tubuh adalah sebagai berikut :



1.      PELINDUNG MATA (Goggles)
Pelindung mata (gog leus) biasa digunakan dalam olahraga voli pantai, menyelam, berenang dll. Kacamata renang digunakan untuk melindungi mata atlet saat berenang. Air kola banyak mengandung klorin yang tidak baik untuk mata, kamata renang juga dapat membantu meningkatkan posisi tuuh dan orientasi bawah air. Begitu juga dengan voli pantai melindungi mata dari pasir mata.


2.      PELINDUNG HIDUNG (NOSE CLIP)
Pelindung hidung (nose clip) digunakan dalam renang, kegunaanya untuk melindungi hidung agar air tidak masuk ke dalam hidung.


3.      PELINDUNG TELINGA (EAR PLUG
Dalam berenang dan menyelam pelindung telinga (ear plug)  sangat berguna untuk mencegah air masuk ke dalam telinga.


4.      PELINDUNG GIGI (GUM SHIELD)
Pelindung gigi (gum shield) biasanya digunakan dalam ohraga beladiri. Kegunaannya untuk melindugi gigi dari pukulan dan tendangan.



5.      PELINDUNG MUKA (MASKER)
Pelindung muka (masker) biasanya dipakai dalam olahraga beladiri, softball dll. Masker dalam softball berguna untuk melindungi wajah dari bola, dan dalam beladiri berguna untuk menahan tendangan dan pukulan,walaupun masuk tendangannya resikonya tidak terlalu bahaya.


6.      PELINDUNG KEPALA (HELEM, HELMET, HEAD GUARD)
Pelindung kepala (helm, helmet, head guard) digunakan dalam olahraga beladiri, motor gp, mobil balap, baalap sepeda dll. Head guard ini berfungsi untuk meredam kekuatan tendangan lawan yang mengenai kepala, sehingga alat ini sangat penting sekali digunakan pada setiap pertandingan beladiri, dalam motor gp, mobil balap, dan balap sepeda helm, helmet sangat berguna apabila terjatuh dan terkena benturan tidak terlalu berbahaya karena sudah terlindungi helm dan helmet.


7.      PELINDUNG LEHER (NECK GUARD)
Dalam olahraga, neck guard digunakan  pada olahraga yang memiliki risiko tinggi cedera leher dan kepala atau cedera lecut (whiplash injury), misalnya pada motocross, balap speed-boat, dan balap go-kart.


8.      PELINDUNG TANGAN (GLOVES)
Pelindung tangan (glop) biasanya dipakai dalam olahraga motocross, softball, beladiri, dll. Dalam permaainam softball glop berguna untuk menangkap bola (menahan bola), dalam beladiri glop berguna untuk menahan tendangan dan pukulaan,dan juga untuk memukul lawan.


9.      PELINDUNG LENGAN (ARMS GUARD)
Arm guard dipakai dalam olahraga beladiri dan juga lainnya, arms guardberfungsi untuk melindungi tulang hasta kita dari benturan yang mengarah pada bagian ini, sehingga resiko patah tulang bisa dapat dikurangi.


10.  PELINDUNG BADAN (BODY PROTECTOR/HUGO)
Body protector/hugo umumnya dipakai dalam cabang beladiri, Alat ini berfungsi untuk melindungi bagian badan kita, bagian ini merupakan target yang sering disasar pada waktu pertandingan.


11.  PELINDUNG ALAT KELAMIN (GENITAL PROTECTOR)
Genital protector sering digunakan dalam olahraga beladiri, untuk melindungi alat kelamin baik laki-laki maupun wanita. Biasa sering terjadi pada saat menendang,tendangan lawan sasarannya tidak pas dan mengenai alat kelamin, dengan adanya genital protector cedera yang dialami tidak terlalu berbahaya.
12.  PELINDUNG PAHA/TUNGKAI (LEG GUARD)
Leg guard dipakai dalam olahraga beladiri dan juga olahraga lainnya, Alat ini berfungsi untuk melindungi tulang kering kaki kita dari benturan yang mengarah pada bagian ini, sehingga resiko patah tulang bisa dapat dikurangi.


13.  PELINDUNG LUTUT (KNEE PADS)
Knee pads biasanya dipakai oleh kipper sepakbola dan futsal, bola voli dll. Knee pads berguna untuk melindungi lutut dari benturan-benturan ataupun gesekan terhadap lapangan bola kaki, bola voli dan lantai lapangan futsal.


14.  PELINDUNG TULANG KERING (SKIN DECKER)
Skin decker biasanya dipakai oleh pemain sepakbola dan futsal, berguna untuk melindungi tulang kering  Olahraga dan Sarana Pelindung Olahraga

Faktor Fasilitas yang dapat menyebabkan cedera dan cabang olahraga. 

 Cabang-cabang olahraga dan hal yang menyebabkan cedera terhadap olahraga tersebut atau fasilitasnya.


1. GOR
    Olahraga yang dapat dilaksanakan atau di mainkan antara lain adalah:

- Bela diri,Tinju, Basket, Bulu tangkis, Tenis meja, Angkat besi, Anggar, Senam, Bola voly.

    

Penyebab terjadinya cedera yang dapat di alami adalah:

  Lapangan yang licin dan tidak terawat, Matras yang tidak layak pakai , bocornya atap gor yang menimbulkan air saat hujan dan menetes ke lapangan.


2. STADION
    Olahraga yang dapat dilaksanakan atau dimainkan antara lain adalah :

 - Sepak bola, Atletik, Softball, Bola tangan.


Penyebab terjadi nya cedera yang di alami adalah :

 - Lapangan yang becek, Lapangan yang tidak terawat, Lapangan yang berlobang


3. KOLAM RENANG
     Olahraga yang dapat dilaksanakan atau dimainkan antara lain adalah :

- Renang, Polo air, Lompat indah


Penyebab terjadinya cedera yang di alami adalah :

  Kolam yang tidak bersih atau kotor, Tidak terawat, Kurangnya air, berlumut.


4. DANAU
     Olahraga yang dilaksanakan atau dimainkan antara lain adalah :

  - Dayung, Selam, Sky air.


Penyebab terjadinya cedera yang dialami adalah :

 Aktifitas masyarakat (pasang jaring,kerambak ikan dan lain-lain)


5. LAUT
    Olahraga yang dapat dilaksanakan atau dimainkan antara lain adalah :

 - Selanjar, Selam, Sky air


Penyebab terjadinya cedera yang dialami adalah :

  Naik surutnya air


6. SIRKUIT
   Olahraga yang dilaksanakan atau dimainkan antara lain  :

 - Motor balap, Balap sepeda, Motor cross


Penyebab terjadinya cedera yang dialami adalah :

 Jalan yang licin,berlobang,becek,berbatu dan lain-lain


7. UDARA
     Olaharaga yang dilaksanakan atau dimainkan antara lain :

  - Terjun payung

 

 Penyebab terjadinya cedera yang dialami adalah :

  Tekanan angin yang tidak stabil atau berubah-ubah


8. TEBING
    Olahraga yang dilaksanakan atau dimainkan antara lain adalah :

- Panjat tebing


9. Gynmasiun
            Gymnasium merupakan tempat berlangsungnya kegiatan senam, fitness dan olahraga pengembang organ tubuh lainnya. Factor penyebab cidera karena fasilitas gymnasium berupa alat fittnes yang kurang memadai, bangunan yang tidak kokoh, tidak adanya tulisan pemberitahuan tentang tata cara factor keamanan pendukung lainnya.


10.   Hall
            Hall adalah bangunan/infrastruktur yang di fakoskan untuk beberapa cabang olahraga seperti olahraga bela diri, catur, serta cabang olahraga indoor lainnya. Factor penyebab cedera olehnya berupa atap/ tiang bangunan yang tidak kokok yang di khawatirkan rentan cedera terhadap semua pihak, ruangan yang sempit, tribun penonton yang tidak layak.


11.   Arena
            Pusat kegiatan olahraga yang berlangsung di arena berupa cabang olahraga pacuan kuda dan lainnya. Penyebab cedera karenanya berupa lintasan pacuan kuda yang tidak baik, pagar penonton yang tidak baik, benda asing yang mengganggu lancarnya kegiatan.


 12.     Ring.
            Ring adalah arena tempat pertandinganbela diri seperti cabang olahraga tinju,muaythai didirikan di atas panggung (setinggi ± 1,5 m). Pada tinju era modern ini, ring berbentuk segi empat sama sisi, dan dibatasi oleh tali berjumlah empat pada setiap sisi. Di dalam ring ada empat sudut. Sudut berwarna merah dan biru untuk kubu para petinju, sedang sudut berwarna putih (atau sudut netral) untuk wasit atau dokter ring yang bertugas atau beristirahat pada masa jeda. Factor cedera oleh karenanya berupa tali ring yang tidak kuat, besi penyangga tali ring yang anjlok, raing yang tidak kokoh serta bangunan/ tribun penonyon yang tidak baik.


13.  Wall Climbing
            Fasilitas ini ialah tempat berlangsunngnya olahraga panjat tebing, factor cedera karena nya berupa wall/dinding yang rapuh, grip yang tidak kokoh, konstruksi bangunan yang tidak kokoh, dan factor lainnya yang mengaganggu kelancaran aktivitas wall climbing.


 14.  Ski es
            Ski es ialah fasilitas untuk olahraga untuk hoki, factor cedera  karena fasilitas ini yang rentan terjadi adalah mencairnya es, pagar pengaman yang kurang kuat serta benda asing lainya.


 15.   Gunung salju
            Merupakan lintasan gunung yang bersalju yang dibiasanya di gelar kejuaraan balapan, sky, dan lainnya. 


Penyebab cidera karenanya dapat berupa lintasan yang tidak teratur, pohon tumbang, binatang buas, dan lainnya.



 16. Sungai.
            Fasilitas sungai kerap di jadikan sebagai ajang kejuaraan arum jeuram. Factor penyebab cidera di sinipun sangat bervariasi di antaranya ialah karena sampah, pohon kayu yang tumbang, bintanang buas, batu besar yang tajam dan lainnya.


17. Track & fill
            Track & fill sangat identik dengan cabang olahraga atletik, yakni lari, lompat, lempar. Penyebab cidera pada fasilitas ini berupa adanya gangguan terhadap lintasan yang kurang terawat atau rusak, bak lompat yang tidak rata bagi olahraga lompat jauh, lapangan yang becek.


D. Sarana Pelindung

           Dalam (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2002:999) Sarana olahraga adalah sesuatu (bisa berupa syarat atau upaya) yang dapat di pakai sebagai alat atau media dalam mencapai maksud dan tujuan. Sarana pelindung adalah alat-alat yang digunakan saat berolahraga.Sarana pelindung yang standart punya peranan penting dalam mencegah cedera. Kerusakan alat sering menjadi penyebab cedera pula, contoh yang sederhana seperti sepatu. Sepatu adalah salah satu bagian peralatan/pelindung kaki dalam berolahraga yang mendapat banyak perhatian para ahli. Masing-masing cabang olahraga umumnya mempunyai model sepatu dengan cirinya sendiri, Yang paling banyak dibicarakan adalah sepatu olahraga lari.


         Hal ini di hubungkan dengan dominanya olahraga lari, baik yang berdiri sendiri maupun sebagai bagian dari orang lain.Sarana pelindung adalah peralatan yang memadai dan sesuai dengan kebutuhan cabang olahraga, yang akan menghindari terjadinya cedera, sarana pelindung yang harus diperhatikan untuk melindungi bagian tubuh adalah sebagai berikut :



1.      PELINDUNG MATA (Goggles)
Pelindung mata (gog leus) biasa digunakan dalam olahraga voli pantai, menyelam, berenang dll. Kacamata renang digunakan untuk melindungi mata atlet saat berenang. Air kola banyak mengandung klorin yang tidak baik untuk mata, kamata renang juga dapat membantu meningkatkan posisi tuuh dan orientasi bawah air. Begitu juga dengan voli pantai melindungi mata dari pasir mata.


2.      PELINDUNG HIDUNG (NOSE CLIP)
Pelindung hidung (nose clip) digunakan dalam renang, kegunaanya untuk melindungi hidung agar air tidak masuk ke dalam hidung.


3.      PELINDUNG TELINGA (EAR PLUG
Dalam berenang dan menyelam pelindung telinga (ear plug)  sangat berguna untuk mencegah air masuk ke dalam telinga.


4.      PELINDUNG GIGI (GUM SHIELD)
Pelindung gigi (gum shield) biasanya digunakan dalam ohraga beladiri. Kegunaannya untuk melindugi gigi dari pukulan dan tendangan.



5.      PELINDUNG MUKA (MASKER)
Pelindung muka (masker) biasanya dipakai dalam olahraga beladiri, softball dll. Masker dalam softball berguna untuk melindungi wajah dari bola, dan dalam beladiri berguna untuk menahan tendangan dan pukulan,walaupun masuk tendangannya resikonya tidak terlalu bahaya.


6.      PELINDUNG KEPALA (HELEM, HELMET, HEAD GUARD)
Pelindung kepala (helm, helmet, head guard) digunakan dalam olahraga beladiri, motor gp, mobil balap, baalap sepeda dll. Head guard ini berfungsi untuk meredam kekuatan tendangan lawan yang mengenai kepala, sehingga alat ini sangat penting sekali digunakan pada setiap pertandingan beladiri, dalam motor gp, mobil balap, dan balap sepeda helm, helmet sangat berguna apabila terjatuh dan terkena benturan tidak terlalu berbahaya karena sudah terlindungi helm dan helmet.


7.      PELINDUNG LEHER (NECK GUARD)
Dalam olahraga, neck guard digunakan  pada olahraga yang memiliki risiko tinggi cedera leher dan kepala atau cedera lecut (whiplash injury), misalnya pada motocross, balap speed-boat, dan balap go-kart.


8.      PELINDUNG TANGAN (GLOVES)
Pelindung tangan (glop) biasanya dipakai dalam olahraga motocross, softball, beladiri, dll. Dalam permaainam softball glop berguna untuk menangkap bola (menahan bola), dalam beladiri glop berguna untuk menahan tendangan dan pukulaan,dan juga untuk memukul lawan.


9.      PELINDUNG LENGAN (ARMS GUARD)
Arm guard dipakai dalam olahraga beladiri dan juga lainnya, arms guardberfungsi untuk melindungi tulang hasta kita dari benturan yang mengarah pada bagian ini, sehingga resiko patah tulang bisa dapat dikurangi.


10.  PELINDUNG BADAN (BODY PROTECTOR/HUGO)
Body protector/hugo umumnya dipakai dalam cabang beladiri, Alat ini berfungsi untuk melindungi bagian badan kita, bagian ini merupakan target yang sering disasar pada waktu pertandingan.


11.  PELINDUNG ALAT KELAMIN (GENITAL PROTECTOR)
Genital protector sering digunakan dalam olahraga beladiri, untuk melindungi alat kelamin baik laki-laki maupun wanita. Biasa sering terjadi pada saat menendang,tendangan lawan sasarannya tidak pas dan mengenai alat kelamin, dengan adanya genital protector cedera yang dialami tidak terlalu berbahaya.
12.  PELINDUNG PAHA/TUNGKAI (LEG GUARD)
Leg guard dipakai dalam olahraga beladiri dan juga olahraga lainnya, Alat ini berfungsi untuk melindungi tulang kering kaki kita dari benturan yang mengarah pada bagian ini, sehingga resiko patah tulang bisa dapat dikurangi.


13.  PELINDUNG LUTUT (KNEE PADS)
Knee pads biasanya dipakai oleh kipper sepakbola dan futsal, bola voli dll. Knee pads berguna untuk melindungi lutut dari benturan-benturan ataupun gesekan terhadap lapangan bola kaki, bola voli dan lantai lapangan futsal.


14.  PELINDUNG TULANG KERING (SKIN DECKER)
Skin decker biasanya dipakai oleh pemain sepakbola dan futsal, berguna untuk melindungi tulang kering dari berbagai benturan.


15.  PELINDUNG KAKI (SEPATU, FOOT GUARD)
Hampir semua cabang olahraga memakai pelindung kaki (sepatu/foot guard), seperti atletik, sepakbola, bola voli, beladiri, dan lain sebagainya. Berguna untuk melindungi kaki


Minggu, 01 Maret 2020

Prinsip Pencegahan Cidera

PRINSIP DASAR PENCEGAHAN CEDERA


1.      Faktor Fasilitas

     Fasilitas merupakan segala sesuatu yang dapat memudahkan dan memperlancar pelaksanaan suatu usaha dapat berupa benda-benda maupun uang. Lebih luas lagi tentang pengertian fasilitas dapat diartikan sebagai segala sesuatu yang dapat memudahkan dan memperlancar pelaksanaan segala sesuatu usaha. Adapun yang dapat memudahkan dan melancarkan usaha ini dapat berupa benda-benda maupun uang, jadi dalam hal ini fasilitas dapat disamakan dengan sarana yang ada di sekolah. Fasilitas bila kurang atau tidak memadai,maka akan mudah terjadinya cedera.

Sarana prasarana olahraga adalah suatu bentuk permanen, baik itu ruangan di luar maupun di dalam. Contoh : lapangan permainan, kolam renang, dsb. (Wirjasanto 1984:154). Pengertian sarana prasarana tidak seperti yang di atas, namun ada beberapa pengertian lain menurut sumber yang berbeda pula. Sarana prasarana olahraga adalah semua sarana prasarana olahraga yang meliputi semua lapangan dan bangunan olahraga beserta perlengkapannya untuk melaksanakan program kegiatan olahraga..Jenis-Jenis Fasilitas dan Usaha Pencegahan Cedera Karena Fasilitas.Singkirkanlah batu, pecahan kaca,kayu,botol kaleng. debu di lintasan atau tempat yang akan dipergunakan.ada pun faktor-faktor fasilitas yaitu:

        1.  Lapangan sepak bola

         Penyebab cedera yang ada dilapangan sepak bola yaitu adanya batu,botol-botol kaleng,lapangan yang tidak rata,becek/berlumpur,tiang bendera yang terlalu dekat sama gawang ,seharusnya 120 cm dari pingir lapangan,tiang gawang dan lain-lain.oleh karena itu singkirkan semua yang bisa menimbulkan terjadinya cedera,dengan cara membuat lapangan serata mungkin,membuaat tiang bendera jauh dari pinggir lapangan,dan membuang batu-batu yang ada dilapangan sepak bola.


2.   Kolam renang

Tempat lompatan start yang licin terkadang bisa membuat berbahaya karena apabila penggunanya terpeleset bisa saja membuatnya cedera,Mata merah diakibatkan oleh kandungan klorin pada air. Klorin adalah bahan kimia yang biasa digunakan untuk membunuh kuman dan kaporit yang terlalu banyak di kolam renag bisa menyebabkan berkurangnya fungsi paru-paru, asma, erosi pada email gigi hingga kanker kandung kemih.




2.      Penggunaan Sarana Pelindung

Sarana pelindung adalah alat-alat yang digunakan saat berolahraga.Sarana pelindung yang standart punya peranan penting dalam mencegah cedera. Kerusakan alat sering menjadi penyebab cedera pula, contoh yang sederhan seperti sepatu. Sepatu adalah salah satu bagian peralatan/pelindung kaki dalam berolahraga yang mendapat banyak perhatian para ahli. Masing-masing cabang olahraga umumnya mempunyai model sepatu dengan cirinya sendiri. Yang paling banyak dibicarakan adalah sepatu olahraga lari. Hal ini di hubungkan dengan dominanya olahraga lari, baik yang berdiri sendiri maupun sebagai bagian dari orang lain.Jenis-Jenis Sarana Pelindung.Sarana pelindung adalah peralatan yang memadai dan sesuai dengan kebutuhan cabang olahraga, yang akan menghindari terjadinya cedera, sarana pelindung yang harus diperhatikan untuk melindungi bagian tubuh adalah sebagai berikut :

·         Pelindung kepala : Helm, helmet, haed guard

·         Pelindung muka : Masker

·         Pelindung mata : Gogleus

·         Pelindung hidung : Nose Clip

·         Pelindung gigi : Gum shield

·         Pelindung leher : Neck guard

·         Pelindung tangan : Glop

·         Pelindung badan : Body profector

·         Pelindung paha / tungkai : Leg guard

·         Pelindung lutut : Knee Pads

·         Pelindung alat kelamin : Genital profector

·         Pelindung tulang kering : Skin decker

·         Pelindung kaki : Sepatu


3.      Faktor Kebugaran Jasmani 

Kebugaran jasmani adalah kesanggupan dan kemampuan tubuh melakukan penyesuaian adaptasi terhadap pembebasan fisik yang diberikan kepadanya dari kerja yang dilakukan sehari-hari tanpa menimbulkan kelelahan yang berlebihan. Tidak menimbulkan kelelahan yang berarti maksudnya ialah setelah seseorang melakukan suatu kegiatan/aktivitas, masih mempunyai cukup semangat dan energi untuk menikmati waktu senggangnya dan untuk kebutuhan-keperluan lainnya yang tajam. Di bawah ini akan ada beberapa ahli yang menjelaskan tentang apa sebenarnya kebugaran jasmani itu.

      Menurut Judith Rink dalam Mochamad Sajoto (1988: 43), bahwa kebugaran jasmani merupakan kemampuan seseorang menyelesaikan tugas sehari-hari dengan tanpa mengalami kelelahan berarti, dengan pengeluaran energi yang cukup besar, guna memenuhi kebutuhan geraknya dan menikmati waktu luang serta untuk memenuhi keperluan darurat bila sewaktu-waktu diperlukan. Djoko Pekik (2004: 2), bahwa kebugaran jasmani merupakan kemampuan seseorang melakukan kerja sehari-hari secara efisien tanpa timbul kelelahan yang berlebihan sehingga masih menikmati waktu luangnya.Sedangkan menurut Engkos Kosasih (1985: 10), kebugaran jasmani adalah suatu keadaan seseorang yang mempunyai kekuatan (strength), kemampuan (ability), kesanggupan, dan daya tahan untuk melakukan pekerjaannya dengan efisien tanpa kelelahan. Rusli Lutan (2002: 7), kebugaran jasmani adalah kemampuan seseorang untuk melaksanakan tugas fisik yang memerlukan kekuatan, daya tahan, dan fleksibilitas.
      Menurut Depdikbud (1997: 4), kebugaran jasmani pada hakekatnya berkenaan dengan kemampuan dan kesanggupan fisik seseorang untuk melaksanakan tugasnya sehari-hari secara efisien dan efektif dalam waktu yang relatif lama tanpa menimbulkan kelelahan yang berarti, dan masih memiliki tenaga cadangan untuk melaksanakan aktivitas lainnya. T. Cholik Muthohir (1999) dalam Ismaryati (2006: 40), menyatakan bahwa kebugaran jasmani merupakan kondisi yang mencerminkan kemampuan seseorang untuk melakukan tugas dengan produktif tanpa mengalami kelelahan yang berarti. 

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kebugaran Jasmani Kondisi fisik adalah merupakan prinsip kunci dalam pencegahan cidera pada olahraga. Kondisi fisik yang baik akan mencegah terjadinya cidera pada waktu melakukan aktifitas olahraga. Juga akan mengurangi keparahan apabila mendapatkan cidera. Kemampuan maksimal dari penampilan seorang olahragawan akan diperoleh dengan kecukupan dalam kekuatan otot dan keseimbangan, power, daya tahan, kordinasi neuromuskuler, fleksibilitas sendi, daya tahan kardiovaskuler, dan komposisi tubuh yang sesuai untuk olahraga.Menurut Perry Howard (1997: 37-38) faktor-faktor yang mempengaruhi kebugaran jasmani adalah: umur, jenis kelamin, somatotipe, atau bentuk badan, keadaan kesehatan, gizi, berat badan, tidur atau istirahat, dan kegiatan jasmaniah.


4.      Faktor Psikologi

Seorang atlet olahraga harus memiliki mental bertanding yang baik. Mental bertanding yang baik menyangkut kepercayaan diri yang tinggi tetapi tidak sombong, tidak mudah cemas/grogi, tidak mudah marah/emosi tinggi dan sebagainya. Oleh karena itu pemantapan mental bertanding seorang atlet sangatlah penting untuk ditingkatkan, yaitu dengan cara diantaranya sebagai berikut :Melakukan pendekatan-pendekatan psikologis. Dimana lebih baik hal ini dapat kita lakukan pada seorang atlet sejak masa usia dini sehingga atlet memiliki bekal mental yang tangguh.

Faktor-faktor ornag cedera akibat fiskologi

a.       Stres dalam berolahraga

Satu hal yang pasti adalah bahwa stress akan mengangu perhatian seorang atlit dengan kurangnya perhatian dari sekelilingnya.contohnya seseorng yang bertanding jika tidak ada yang mendukung dia saat bertandinng seseorang atlit itu akan merasa stres karena disekelilingnya tidak ada yang memberi ia semangat atau motivasi yang lebih dari penonton.

b.      Emosioanal

Reaksi pertama atlet yang mengalami cidera digambarkan seperti akan menghadapi kematian. Setelah itu megalami reaksi kesedihan yang ditandai dengan lima tahapan kesedihan: Penolakan,Kemarahan,Untung atau tidak (menawar),Depresi dan Menerima dan menyusun lagi

c.       Mental

Contohnya: jika kemampuan atlet menurun karena faktor kesalahan teknik gerakan, maka persepsi sang atlet terhadap kemampuan dirinya juga akan berkurang. Jika masalah kesalahan gerak ini tidak segera teridentifikasi dan tidak segera diperbaiki, maka kesalahan gerak ini akan menetap. Akibatnya, kemampuan atlet tidak meningkat, sehingga atlet menjadi kecewa dan lama kelamaan bisa menjadi frustrasi bahkan memiliki pikiran dan sikap negative terhadap prestasi olahraganya.

Pencegahan, Perawatan, dan Cidera

  A.  Pencegahan

Pencegan merupakan suatu upaya yang dilakukan seseorang untuk menghambat sesuatu hal yang akan terjadi, pencegahan juga bisa diartikan sebagai penanggulangan atau tindakan yang dilakukan agar hal yang tidak diingin kan tidak terjadi atau mengurangi dampak sesuatu hal yang tidak diinginkann terjadi.
Lebih lanjuda dapat di perjelas menurut teori yang di sampaikan oleh:
“pencegahan adalah proses, cara, perbuatan mencegah. Contonya seperti pencegahan kebakaran artinya upaya-upaya yang dilakukan agar kebakaran tidak terjadi” (KBBI; )
Berdasarkan kutipan diatas dapat di simpulkan bahwa “PENCEGAHAN” merupakan suatu proses atau cara yang di lakukan seseorang untuk menghentikan sesuatu hal agar tidak terjadi.

C.     CEDERA
Cedera merupakan suatu ketika dimana telah terjadi gangguan pada sistem tubuh, yang di sebabkan oleh benturan ataupun kecelakaan kecil akibat aktifitas olahraga.
Lebih lanjuda dapat di perjelas menurut teori yang di sampaikan oleh:
Menurut Syamsuri E (1984 : 36), cedera adalah memar atau luka, atau dislokasi dari otot, sendi atau tulang yang disebabkan oleh kecelakaan, benturan (bodycontac) atau gerakan yang berlebihan sehingga otot, tulang, atau sendi tidak dapat menahan beban atau menjalankan tugasnya.

C. Perawatan merupakn suatu tindakan seseorang terhadap orang lain disaat orang tersebut tersebut mengalami problem terhadap kesehetan, kejiwaan, mental.Perawatan juga dapat di artikan sebagai tindakan yang diambil seseorang untuk menolong orang lain dalam keadaan darurat sebelum di tangani lebih lanjud oleh dokter



Nama - nama Fasilitas Olahraga

Fasilitas olahraga merupakan kebutuhan dasar untuk melakukan aktivitas olahraga. Tanpa adanya fasilitas olahraga yang memadai sulit untuk mengharapkan partisipasi masyarakat atau publik dalam aktivitas olahraga, seperti yang dikemukakan oleh Maksum (2004) bahwa : Semakin banyak fasilitas olahraga yang tersedia, semakin mudah masyarakat menggunakan dan memanfaatkannya untuk kegiatan olahraga. Sebaliknya, semakin terbatas fasilitas olahraga yang tersedia, semakin terbatas pula kesempatan masyarakat menggunakan dan memanfaatkan untuk kegiatan olahraga. Dengan demikian, ketersediaan fasilitas olahraga olahraga akan mempengaruhi tingkat  dan pola partisipasi masyarakat dalam berolahraga. 
Macam-macam Fasilitas Olahraga :
▪ Lapangan, daerah tempat dimainkannya olahraga, termasuk di dalamnya adalah lapangan sepak bola, volli, basket, takraw, dan lain-lain.
▪ Stadion, Stadion adalah bangunan untuk menyelenggarakan kegiatan olahraga sepakbola dan atau atletik serta fasilitas untuk penontonnya. Pada skala Kota dan Daerah stadion merupakan prasarana olahraga utama, karena keberadaannya yang dapat berfungsi sebagai pusat kegiatan olahraga, artinya dapat dilaksanakan beberapa kegiatan olahraga pada satu area.
▪ GOR (Gedung Olahraga), bangunan dengan ruangan tertutup atau in door. Bisa diselenggarakan kegiatan pertandingan olahrga seperti, futsal, badminton, volley, basket, tenis meja, dll.
▪ Kolam Renang, suatu konstruksi buatan yang dirancang untuk diisi dengan air dan digunakan untuk berenang, menyelam, atau aktivitas air lainnya.
▪ Sircuit/Arena Balap, sebuah fasilitas yang dibangun untuk balap kendaraan, atlet atau hewan.
▪ Pelindung Kepala : Helm, Helmet
▪ Pelindung muka : masker
▪ Pelindung mata: Gogleus
▪ Pelindung hidung: Nose Clip
▪ Pelindung gigi : Gum shield
▪ Pelindung tangan: glop
▪ Pelindung badan : body profector
▪ Pelindung lutut: knee pads